oleh

Akibat Erosi Krueng Keureutoe, 29 Unit Rumah dan Dayah di Aceh Utara Terancam Ambruk

Lhoksukon, Teropong Barat – Sebanyak 29 unit rumah dan sebuah dayah di Gampong Blang Gunci, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara terancam ambruk ke sungai akibat erosi Krueng Keurutoe kian mengganas, bahkan 7 unit rumah di antaranya telah dikategorikan masuk ‘zona merah’ atau sangat rawan.

Keuchik (Kepala desa) Blang Gunci Samsul Kamal Minggu malam mengatakan bahwa ancaman ini sebenarnya sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir, tetapi akhir- akhir ini erosinya kian mengganas.

“Bahkan 7 unit rumah di antaranya di sepanjang bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Keurutoe ini benar- benar nyaris ambruk, kami menyebutnya masuk ketegori zona merah,” kata Samsul Kamal melalui Kepala Urusan Pemerintahan Gampong Blang Gunci, Safrizal.


Dikatakan dinding bagian belakang ke 7 unit rumah yang sangat rawan ini ada yang sudah berbatasan langsung dengan sungai dan hanya menunggu ambruk, tentunya ini begitu berisiko terhadap keselamatan warga, terlebih jika debit air di sungai sedang tinggi.

Meski demikian, tambah Safrizal, mereka hanya pasrah karena sebagian dari mereka tidak memiliki tempat atau tanah lain untuk pindah rumah dan sebagian lainnya tidak memiliki biaya yang cukup untuk pembangunan rumah baru.

“Sebenarnya beberapa dapur rumah di antaranya ada yang sudah ambruk dalam beberapa tahun terakhir, namun mereka membangunnya kembali dengan cara menarik ke bagian depan atau arah jalan,” jelas Safrizal.

Sementara yang ke 22 unit rumah lainnya di sepanjang bantaran sungai itu juga memiliki nasib serupa, hanya saja nasib mereka masih sedikit beruntung karena jarak batas rumah mereka dengan sungai diperkirakan ada yang masih tersisa hingga 1 meter lebih.

Jika erosi ini kian parah, sambung Safrizal, maka tidak hanya 29 kepala keluarga yang kehilangan tempat tinggal, tetapi jalan lintas kecamatan yang menghubungkan puluhan desa juga putus, karena jarak batas sungai dengan jalan ini hanya tersisa belasan meter lagi.

Sementara sebelumnya, pihak pemerintah gampong setempat telah melakukan berbagai upaya guna mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.

Di antaranya mengusul relokasi rumah, pembangunan tanggul, hingga pemotongan jalur sungai ke pemerintah, agar air di sungai itu tidak mengikis pemukiman penduduk.

Tersebab itu pihaknya berharap adanya perhatian serius untuk penanganan bencana ini, baik dari pemerintah tingkat kabupaten, provinsi maupun pusat.

Berikut 7 nama pemilik rumah yang dikategorikan sangat rawan ambruk masing- masing 1. Abdullah Daud (44), 2. A Rasyib T (40), 3. Khadizah (38), 4. Hapasyah (49), 5. Ismail (52), 6. Wardiah (30) dan 7. Hasanuddin (34).

Sementara 22 nama pemilik rumah yang dikategorikan rawan masing- masing milik 1. Tgk. H. Usman (65), 2. Abdul Hamid (45), 3. Rosmiati (45), 4. Suryati (50), 5. Nurlaila Yakob (50), 6. Antiah/Armia, 7. Alamsyah (60), 8. Adnan (36), 9. Amiruddin (36), 10. Salman (35), 11. Cut Nuraini (65), 12. Muklis (37), 13. Subki (50).

Kemudian 14. M. Taib (71), 15. Asiah Itam (65), 16. Tgk. Nurdin (45), rumah dan bangunan dayah, 17. Ridwan (35), 18. Abdullah (40), 19. Abdullah ali (60), 20. Agus Maulana (25), 21. Umar Abd (38) dan 22. Halimah Taib (70). (SI)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.