oleh

Aksi Gerakan Menolak lupa (GEMPA) PT.LMR, Meminta Kejelasan Terkait TIM Pansus yang telah Beroperasi 6 Bulan.

Aceh Tengah, Teropong Barat – Gerakan Menolak Lupa (GEMPA) yang terdiri dari mahasiswa dan LSM akhirnya diterima masuk untuk berdiskusi bersama tim Pansus Tambang DPRK Aceh Tengah, setelah sebelumnya melakukan orasi di halaman gedung wakil rakyat tersebut, selasa (07/07/2020).

Dalam diskusi mempertanyakan kinerja tim Pansus yang sudah bekerja dalam enam bulan ini, sejumlah aktivis tampak beradu argumen dengan para pendemo.

Salah seorang peserta aksi Maharadi dalam kesempatan itu mempertanyakan langkah-langkah yang sudah ditempuh oleh tim Pansus terkait pro kontra tambang di Gayo itu.

Maharadi menduga, jangan-jangan tim Pansus hanya menerima laporan dari hasil kerja tim 9, yang dihadikan bahan oleh Pansus menjawab semua pro kontra itu.

“Artinya Pansus harus terbuka, jangan ada yang ditutup-tutupi, jelaskan dari awal termasuk penggunaan anggaran Pansus,” kata Maharadi.

Menjawab itu, Ketua Pansus 1 DPRK Aceh Tengah, Sukurdi Iska mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan pertemuan bersama para reje, mukim, tokoh masyarakat dan mahasiswa Linge beberapa waktu lalu di Kantor Camat Linge.

“Pada saat itu para reje di Linge sepakat membentuk tim independen yang dinamakan tim 9 yang berisi orang-orang dari Kecamatan Linge untuk melakukan kajian dampak negatif dan positif kehadiran tambang,” kata Sukurdi Iska.

Kemudian kata Sukurdi, tim ini terus bekerja termasuk menggelar seminar di Gedung Olah Seni (GOS) Takengon dan menjaring aspirasi dari masyarakat. “4 Juli 2020 lalu, data hasil kajiannya diserahkan ke kita,” katanya.

Sukurdi menegaskan bahwa data tersebut lambat diterima pihaknya lantaran suasana Pandemi Covid-19.

“Dan yang perlu kami tegaskan adalah, data yang diberikan tim 9 kepada kami bukan untuk menjadi hasil dari kinerja tim Pansus,” katanya.

“Ini hanya data awal, untuk kemudian kami telaah, dan memanggil orang-orang yang disebutkan di dalam data ini. Nanti kita juga akan undang adik-adik mahasiswa dan pengurus LSM. Hasil data ini akan kami pelajari dulu, dan akan kami publish apa hasilnya,” tegasnya.

Sementara itu, Korlap Gempa, Agus Muliara menegaskan ke depan dengan adanya geraka menolak ini, dapat membuka mata semua pihak bahwa kehadiran tambang di Gayo bukan menjadi solusi untuk mensejahterakan rakyat.

“Kami hanya berharap semuanya membuka mata, masih ada hal-hal lain yang dapat dilakukan mendongkrak ekonomi masyarakat. Untuk itu, eksekutif dan legiskatif harus tanggap,” ungkapnya. YD

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.