oleh

FORKAMAPA Mendesak Pemerintah Aceh Segera Salurkan Bantuan Sosial yang Dijanjikan (BEK LAMBAT)

TEROPONG BARAT – Pemerintah Aceh sudah berulang kali menyampaikan dimedia terkait bantuan untuk mahasiswa Aceh, baik yang di dalam maupun di luar negeri, selama wabah corona berlangsung.

Hal ini tidak hanya berulang kali disampaikan oleh pejabat pemerintah Aceh saja melainkan Plt gubernur juga. Namun, fakta dilapangan selama ini bantuan yang dijanjikan mulai april tersebut belum pernah tersalurkan.

Forum Kajian Mahasiswa Pascasarjana Aceh di Malang (FORKAMAPA), sampai hari ini masih mempertanyakan serta mendesak pemerintah Aceh  terkait komitmen terhadap  kebijakan bantuan sosial untuk mahasiswa Aceh yang tidak pulang kampung. Ketua FORKAMAPA, Muammar, menyampaikan bahwa sebenarnya desakan terhadap pemerintah Aceh sudah berulang kali disampaikan oleh teman-teman di Organisasi Kedaerahan di seluruh Indonesia, akan tetapi pemerintah Aceh masih terus berdalih.

“ Pemerintah Aceh telah berulang kali mengeluarkan himbauan terhadap mahasiswa Aceh yang di luar daerah untuk tidak pulang kampung selama wabah COVID-19 berlangsung, hal ini sebagai upaya pencegahan penyebaran virus tersebut, sebagai gantinya pemerintah berjanji memberikan bantuan sosial tunai. Maka tidaklah berlebihan apabila kami serta teman-teman dari Organisasi Kedaerah terus mendesak serta mempertanyakan bagaimana komitmen pemerintah Aceh terhadap janji yang disampaikan.

Muammar melanjutkan, bahwa teman-teman mahasiswa yang masih menetap di luar daerah sudah sangat berjuang dalam hal upaya pencegahan penyebaran COVIN-19, maka sudah seharusnya pemerintah Aceh melihat hal tersebut dengan mata terbuka, sehingga penyaluran bantuan yang dijanjikan segera dapat tersalurkan sebagaimana mestinya.

Penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di Malang dan beberapa daerah lainnya, sudah sangat benar-benar menyulitkan teman-teman mahasiswa yang masih menetap di tanah rantau, sehingga sudah seharusya pemerintah Aceh bergerak cepat memenuhi komitmen dari kebijakan yang sudah di keluarkan Bahasa Acehnya “BEK LAMBAT SABE”.

Bantuan Sosial dari pemerintah Aceh tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) tahun 2020. Adapun besaran bantuan yang dijanjiak bervariasi, terhadap masiswa Aceh di luar negeri jumlahnya Rp. 2,5 juta per orang, sedangkan mahasiswa yang di dalam negeri di janjikan mendapat bantuan sebesar Rp. 1 juta per orang.

Lantas, sampai kapan mahasiswa harus terus menunggu janji manis ini?

Satria menambahkan, bantuan sosial Pemerintah Aceh bukanlah suatu kebutuhan bagi para mahasiswa perantauan, melainkan sebuah keharusan yang harus segera ditunaikan oleh pemangku kebijakan. Kami mengerti bahwa pemerintah Aceh sangat berhati-hati dalam menyalurkan bantuan sosial ini kepada mahasiswa, jangan sampai alokasi dana yang dikucurkan tidak tepat sasaran dan menjadi malapetaka bagi mereka. Namun lagi-lagi alur birokrasi yang panjang terkait penyaluran dana merupakan gejala umum yang kerap kita rasakan. Kebijaksanaan PLT Gubernur adalah harapan kami.

Di tengah polemik hangat obrolan PSBB di Malang, mahasiswa Aceh masih tetap  menjalankan kegiatan akademik di kampus dengan tetap menjalankan anjuran protokol kesehatan dari pemerintah daerah sekitar. Di sisi lain, kesejahteraan hidup menjadi prioritas mahasiwa untuk tetap bertahan dan menyelesaikan pendidikan disini.

Hal yang berbeda dirasakan mahasiswa Aceh di Bandung. Dengan proses yang cepat mahasiswa mendapatkan bantuan sembako dalam kurun waktu dua dampai tiga hari setelah ditetapkan masa PSBB. Kesigapan Pemerintah Jawa Barat dalam menangani mahasiswa di perantauan patut diberikan apresiasi. Berita ini semestinya menjadi pukulan pahit bagi Pemerintah Aceh untuk memberikan edukasi yang baik bagi warganya di perantauan. Sampai berita ini diturunkan di media. Janji manis masih menjadi bunga tidur kami di malam hari. (RED)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.