oleh

Menjadi Jurnalis (Wartawan) dan Kehidupan Aku

ilustrasi/net

Jawa Timur-Teropong Barat.com |  Sudah lama aku tidak menuliskan keluh kesah hatiku dengan menjadi Jurnalis (Wartawan).
Selama ini, beberapa bulan terakhir terhitung, semenjak aku masuk ke dalam salah satu perusahaan pers, semua jadi realita dan tampak nyata.
Setiap hari aku menuliskan keluh kesah Masyarakat, Orang lain dan Kejadian yang baik ataupun yang tidak baik, yang terjadi sekarang maupun yang kemaren, di dalam instansi pemerintah,Swasta dan di Lingkungan Masyarakat, yang tergambar dalam realita kehidupan.

Mas/abang.
Mungkin sudah tahu jika syarat utama seorang jurnalis atau wartawan adalah idealis dan memiliki Kreativitas yang mampu membaca situasi dalam menginformasikan.
Jurnalis(Wartawan) jika ia benar idealis dan realistis, Maka tidak lagi perlu makan enak saat perutnya kelaparan.

Idealis adalah mendahulukan yang dianggap benar atas suatu keyakinan yang dianggap benar/nyata, dan menunda yang “tidak penting” dalam kehidupan.
Bahkan yang penting dalam hidup seorang Jurnalis pun sudah semestinya harus ditunda demi informasi yang bakal jadi keluh kesah orang lain dan di lingkungan masyarakat. Kebutuhannya adalah kebutuhan orang yang haus akan informasi data dan fakta. Nyatanya, meski kebutuhannya tidak tercukupi, kebutuhan oranglah yang bisa menutup daftar keluh kesahnya.

Sekecil apapun informasi yang layak jadi keluh kesah Masyarakat dan orang lain adalah benar-benar menu makanan yang enak. Terlebih data ekslusif, yang mengumpulkan informasinya butuh teknis investigasi gaya lama, sehingga mengungkap apa yang tak “kasat akal”, jadi terang benderang di kemaslahatan umat dan dikehidupan masyarakat.
Itulah makanan terlezat seorang Jurnalis atau Wartawan yang sesungguhnya. Jurnalisa (Wartawan) dalam status sosial lebih tinggi dari Jabatan Presiden pun.
Namun dari segi profesi, bisa jadi lebih rendah dari “karyawan” yang memiliki perputaran uang konsisten (Gaji ).

Kesejahteraan Jurnalis atau Wartawan masih sekedar bayang-bayang dan ini adalah vitamin yang wajib dicari tercakup dalam tiga hal yaitu, rendahnya kesejahteraan hidup, hambatan berserikat, serta minimnya jaminan keselamatan saat menjalankan tugas sebagai “Social Control”.

Ya, selain idealis tentunya Jurnalis (Wartawan) harus menemui hal kolot yaitu kesejahteraan.
Jika kesejahteraan hidup seorang pegawai negeri sipil (PNS), Aparat Pemdes jatuh pada gaji dan tunjangan sebagainya.

kesejahteraan abadi seorang Jurnalis atau Wartawan hanya bisa diukur dengan namanya. Seberapa lama ia mengabdi, menahan diri,Idealis dan bersemayam dalam hati pembaca.
Tulisan-tulisan itulah yang kemudian menempatkan Seorang Jurnalis sebagai hal abadi.
Teknis kritis menjadi aspek kedua setelah idealis. Dan ini bisa jadi minumannya. Jurnalis atau Wartawan adalah seorang yang harus pintar dan kritis dalam segala hal. Namun ia kritis bukan untuk disebut pintar, tapi untuk menyuarakan kebenaran.
Jurnalis atau Wartawan menyuarakan kebenaran melalui tulisan, reportase, analisis yang disertai fakta, sesuai dengan kode etiknya sebagai pewarta informasi untuk publik. Meski sebagai seorang pewarta informasi, Jurnalis (Wartawan) tidak menjalankan peran sebagai penegak hukum/pengambil kebijakan.

Tapi perannya sebagai “Social Control”, untuk mendorong penegak hukum/pengambil kebijakan agar semua terkontrol dan menjalankan tugasnya bekerja maksimal. Juga sebagai pengontrol agar mereka tidak melenceng dalam bekerja.

Mungkin banyak Pihak-Pihak Instansi Terkait (Pembuat kebijakan),Swasta maupun Pihak lain, yang risih dan tidak senang dengan wartawan/Jurnalis yang kritis.
Tapi harus dimengerti, kadang Jurnalis/Wartawan mempertaruhkan keselamatan-nya, demi sebuah kebenaran.
Jurnalis yang kritis bukan untuk mencari penghargaan dan penghormatan karena pada kenyataan-nya, Seorang wartawan yang kritis malah sering dicemooh dan dianggap tidak baik.

Hal ini menjadi sebuah pilihan, apakah kita ingin menjadi Jurnalis yang “kritis” atau wartawan yang “diam” asal dapat berita.
Sikap kritis inilah yang harus disertai kelahiran rupa independen.
Bahkan dilarang menerima “materi” dari siapa pun, untuk lantas menjadi tidak kritis.

Akhir kata, Jurnalis/Wartawan hidup dengan kata-katanya yang miskin namun sebagai kekayaan intelektual dan analisis data faktual, sebagai “Social Control” di lingkungan Instansi-Instansi Terkait dan Masyarakat juga Orang lain, tercakup pada masalah hidupnya sendiri.

Lalu aku, lupa akan apa itu keluh kesah diri sendiri.
(Abd.Rohman-Kabiro Wil.Jatim)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.