oleh

Pendapat Islam Mengenai Wanita Yang Berkecimpung Ke Ranah Publik Atau Wanita Karir

ILUSTRASI/NET

Penulis : Hafizul Hilmi Mahasiswa dari UIN Ar Raniry

Ranah dan publik merupakan dua kosa kata yang berbeda. Ranah dapat diartikan dari kamus bahasa Indonesia yang artinya adalah daerah atau kawasan sedangkan publik adalah masyarakat atau umum. Jadi, perempuan di ranah publik dapat diartikan sebagai perempuan atau wanita yang berada di kawasan atau daerah yang berperan di luar rumah.

Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamiin tidak pernah melarang wania untuk bekerja dan memiliki profesi di sektor publik sepanjang itu tidak mengganggu sektor domestiknya ataupun kewajibannya. Sebaliknya, Islam memberikan hak kepada wanita untuk memegang sebuah profesi dan melibatkan diri secara aktif di dalam perniagaan dan perdagangan. Sebagai contoh, Khadijah Binti Khuwalid yang dikenal sebagai komisaris perusahaan, Zainab binti Jahsy sebagai pengusaha tekstil dan Al-Shifa sebagai sekretaris hisbah.

Di dunia realiti sekarang, wanita masa kini di banyak yang memulakan langkahnya di ranah publik untuk menghidupi keluarganya atau untuk kepentingan dirinya sendiri.

Al-Quran berbicara tentang wanita dalam berbagai surah di dalamnya dan ianya menyangkut dari berbagai sisi kehidupan. Mulai dari ayat yang berbicara mengenai hak-hak dan kewajiban dan yang turut menguraikan perkara-perkara mengenai keistimewaan-keistimewaan tokoh-tokoh wanita di dalam sejarah Islam.

Menurut hukum Islam, wanita berhak memiliki harta dan membelanjakannya, menggunakannya, menjual, menggadaikan atau menyewakan hartanya. Mengenai hak wanita karir atau wanita yang bekerja diluar rumah pula harus ditegaskan sebelumnya bahwa Islam memandang mulia wanita karena peran dan tugasnya dalam masyarakat sebagai ibu dan isteri sebagai peran yang mulia.

Selain itu, seorang wanita juga memiliki kewajiban pada suaminya untuk mengurus diri suaminya, mengurus rumah tangganya dan anak-anaknya. Islam juga menganjurkan dan menegaskan supaya wanita untuk tetap tinggal di dalam rumah sebagaimana yang disebutkan dalam Surah Al-Baqarah Ayat 233 yang bermaksud “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (Surah Al-Baqarah Ayat 233)

Memang bekerja adalah kewajiban seorang suami sebagai kepala rumah tangga tetapi Islam juga tidak melarang wanita untuk bekerja. Wanita boleh bekerja, jika memenuhi syarat-syaratnya dan tidak mengandung hal-hal yang dilarang oleh syari’at. Allah S.W.T.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.