oleh

Petani Sarungan; “Cerita petani kopi yang menjerit pasang surutnya harga. “pedulikah pemerintah saat ini.?

Teropong Barat – Krisis mungkin semakin terjadi, naik turun ekonomi sudah pasti menjadi, Wadah kami sebagai petani hanya disebuah lahan kecil kepunyaan alam yang bertepi, dari hasil-hasil rempah ruah dari hasil palawija kami menikmati hidup dinegeri ini.

Jadi kepada para petinggi negeri tempat kami mengadub dan bersandar diri tolong jangan pernah luluh lantakkan jerih keringat pedas kami.
Berusahalah menormalkan harga kopi ini , Dan itulah sebagai petinggi negeri untuk memakmurkan ekonomi rakyat ini.

 

Kita sama-sama makan, sama-sama makan sepiring, sama-sama punya keluarga , dan selayaknya kita sama-sama menunjang perekonomian ini. Besok atau lusa cerita yang menari diatas pelepah pikiran hati yang haqiqi terbitnya subuh di corong surau,
Bertanda berlari santai kami petani memaku jalan setapak.

 

Mengeja kerikil dari gelombang pagi yang tak sampai barangkali lolongan sang jantan berbuah sesuap mengilhami anak bini kala lelap Kerikil berdzikir memutar tasbih sajak tani ,di ufuk jarak tinggallah sepeninggal jejak
menyambung kopi, padi, dan anyaman kerak Tunai pada irigasi mata air.

 

Sesubur rahimmu seabad lampau
Tertimbun tikus yang berdasi, semesta
Anak muda sudah gengsi dengan gelar petani, mari bangkit gerakkan suara petani ,kita untuk rakyat,petani untuk kita.

  Petani Sarungan_

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.